jump to navigation

Awas..! Trend Diabetes Serang ABG Usia 15 Tahun Desember 9, 2008

Posted by jakapantura in Kesehatan, diabetes.
add a comment

Fatichatun Nadhiroh – detikSurabaya

Surabaya – Bagi Anak Baru Gede (ABG) yang memiliki postur tubuh subur dan gemuk, sebaiknya waspada. Pasalnya, saat ini mulai trend pasien diabetes berusia 15 tahun.

“Jika 3 tahun lalu pasien diabetes melanda kalangan muda usia di atas 25 tahun, saat ini mulai berubah. Usia 15 tahun dengan tubuh gemuk bisa mengidap diabetes,” kata Ketua Panitia Scientific Program Joint Symposium Surabaya Diabetes Update XVIII (SDU XVIII), dr Sri Murtiwi SpPD-KEMD kepada wartawan di ruang Diabetes dan Nutrisi RSU dr Soetomo Surabaya, Selasa (9/12/2008).

Murtiwi menjelaskan, bila ada ABG sudah mengidap diabetes maka harus dilakukan diet ketat. ABG tersebut harus menjalani porsi makan yang dibatasi dan berat badannya harus diturunkan hingga mencapai ideal. Jika dibiarkan saja, maka kondisi ABG itu bisa mencapai diabete tipe I yang tergantung dengan insulin.

“Jika dibiarkan terus, maka ABG ini bisa mencapai diabetes tipe II yang membutuhkan obat, makanan dengan porsi dibatasi dan olah raga. Bila tetap tidak mampu diobati, maka ABG ini harus menjalani insulis,” tambahnya.

Insulin ini, jelas dia, bukan hanya mampu menurunkan gula darah namun memiliki manfaat dan mempengaruhi jaringan tubuh lainnya.

Sementara jumlah pasien ABG yang mengalami diabetes dalam waktu satu bulan mencapai 2 orang. “Meski angkanya sebulan masih 2 pasien baru, lambat laun kasus ini akan semakin banyak. Apalagi saat ini banyak masyarakat yang kurang peduli dengan pola hidup dan pola makan,” tegasnya.

Ahli penyakit dalam RSU dr Soetomo ini menjelaskan, bila kondisi gula darah ABG inisudah kembali normal, pihaknya menyarankan untuk tetap mengatur pola makan dan olah raga

“Jangan konsumsi makanan yang menyebabkan gula darah tinggi. Diantaranya buah-buahan rambutan dan mangga. Dan sebaliknya, jangan biarkan gula darah drop di bawah 70 mdl. Ini bisa membahayakan dan menyebabkan pasien drop,” tandasnya.(fat/fat)

Sumber : http://surabaya.detik.com

Pengaruh Doa Terhadap Kesembuhan November 21, 2008

Posted by jakapantura in Kesehatan.
Tags:
add a comment

Commission on Scientific Signs of Qur’an & Sunnah
Adalah lembaga pengkajian aspek Sains & teknologi dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Didirikan pada tahun 1987 di bawah suvervisi Rabithah Alam Islami di Makkah Al-Mukarromah. Penggagasnya adalah seorang ulama asal Yaman, Syekh Abdul Majid Zendani. Beliau adalah seorang ahli farmasi yang sangat menguasasi sains moderen, tafsir dan hadits. Sekarang dipimpin oleh Syekh Dr. Abdullah Al-Mushlih, seorang ulama Saudi Arabia.

***
Setiap kita mengunjungi orang sakit, kita selalu mendoakannya agar diberi Allah kesembuhan. Namun, sejauh mana keyakinan kita terhadap pengaruh do’a yang kita ucapkan tersebut terhadap kesembuhan orang yang kita kunjungi tadi? Jangan-jangan kita mengucapkannya hanya sekedar kebiasaan; dengan kata lain sebatas diucapkan dengan lisan, tanpa diiringi keyakinan bahwa doa’ tersebut merupakan salah satau metode pengobatan yang diajarkan Rasululullah Saw kepada umatnya.

Lantas, apa pengaruh do’a terhadap kesembuhan? Inilah yang dipelajari Dr. Dhiyak Al-Haj Husen, seorang pakar kesehatan bidang rematik di Ingris, anggota Asosiasi Pengonatan Sakit Punggung dan Akupuntur Ingris dan juga anggota Asosiasi Pengobatan Sakit Punggung Dengan Laser di Amerika.

Dalam sebuah eksperimen yang dilakukannya menggabungkan metode pengobatan moderen dengan metode Nabi (Thibbunnabawi) dengan tujuan mengetahui dengan pasti sejauh mana efektifitas Laser yang dibarengi dengan do’a dalam mengobati penyakit punggung / tulang belakang yang diderita para pasiennya.

Dr Dhiyak menjelaskan bahwa penyakit bagain belakang / punggung adalah yang paling banyak diderita manusia saat ini setelah rematik, berdasarkan kunjungan para penderita ke dokter. Dalam berbagai penelitian dijelaskan bahwa hamper 80 % penghuni bumi saat ini pernah menderita sakit di bagian bawah punggung semasa hidup mereka.

Melihat adanya efek samping dari obat-obat dan konsentrasi para pakar kesehatan hanya terhadap aspek fisik tanpa peduli terhadap aspek rohani maka muncul berbagai tawaran untuk menggunakan pengobatan komprehensif (penyempurna) seperti kemoterapi, akupuntur, laser dan pengobatan fisik-psiskis seperti meditasi (merenung) dan doa untuk kesmebuhan.

Berdasarkan pemikiran tersebut saya menggabungkan antara metode pengobatan moderen dengan pengoatan Nabi (Thibbunnabawi) dalam penelitian / eksperimen yang saya lakukan. Hal tersbeut saya lakukan untuk mengetahui secara pasti efektifitas Laser dengan do’a dalam mengobati sakit punggung yang diderita para pasien.

Saya menerapkan metode tersebut kepada 40 pasien yang umur mereka berkisar antara 30 sampai 65 tahun. Semua mereka adalah penderita penyakit punggung lebih dari tiga bulan. Para pasien tersebut dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama dengan menggunakan sinar laser ringan saja di tempat-tempat / titik-titik akupuntur sebanyak 40 titik di semua tubuh mereka. Kelompok kedua dengan melakukan hal yang sama, namun ditambah dengan do’a yang diajarkan Rasul Saw :

أسأل الله العظيم رب العرش العظيم أن يشفيك

“Aku memohon pada Allah yang Maha Agung, Tuhan Pencipta singgasan yang agung agar berkenan menyembuhkanmu”

Do’a tersebut saya baca sebanyak tujuh kali setiap titik akupuntur saat menngunakan laser, tanpa didengar dan diketahui oleh sang pasien bahwa saya menggunakan do’a agar terhindar dari mispresepsi.

Penilaian tingkat rasa sakit dan sejauh mana kemampuan pasien untuk membungkuk (ruku’) diakukan langsung setelah selesai terapi, kemudian setelah 4 pekan, 8 pekan, 12 pekan dan setelah 6 bulan.

Hasilnya sangat mengagumkan. Kelompok dengan menggunakan do’a ternyata sudah mengalami proses kesembuhan secera signifikan sejak selesai terapi dan terus meningkat kesembuhannya sampai setelah enam bulan berikutnya. Sedangkan yang tidak menggunakan do’a hanya megalami sedikit perubahan sejak selesai terapi dan setelah beberapa pekan saja. Setelah dua bulan rasa sakit datang kembali.

Subahanallah…

Sebuah hasil penelitian seorang pakar yang sangat mengagumkan dan dapat dipercaya kebenarannya. Sebab itu, Lembaga Saintifik dalam Qur’an dan Sunnah (Commission on Scientific Signs of Qur’an & Sunnah) mengajak untuk memperbanyak do’a saat Anda menghadapi sakit, apakah yang sakit itu istri/suami, anak-anak, karib kerabat dan siapa saja yang Anda kunjungi. Dengan penuh keyakinan do’a Anda dikabulkan Allah. Anda pasti akan menyaksikan hasilnya dengan izin Allah.

Separah apapun penyakit yang diderita, maka jangan sekali-kali berputus asa akan rahmat Allah. Kewajiban kita meminta kepada Allah yang Maha Agung, Tuhan Pencipta singgasana yang agung agar berkenan menyembuhkan penyakit kita.. Amin..
(Majalah Al-I’jaz Al-Ilmi No 30, Jumadil Akhir 1429)

Sumber : http://www.eramuslim.com

Madu Lebah Obat Luka Akibat Diabetes di Amerika November 19, 2008

Posted by jakapantura in Kesehatan, diabetes.
Tags: ,
add a comment

Commission on Scientific Signs of Qur’an & Sunnah
Adalah lembaga pengkajian aspek Sains & teknologi dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Didirikan pada tahun 1987 di bawah suvervisi Rabithah Alam Islami di Makkah Al-Mukarromah. Penggagasnya adalah seorang ulama asal Yaman, Syekh Abdul Majid Zendani. Beliau adalah seorang ahli farmasi yang sangat menguasasi sains moderen, tafsir dan hadits. Sekarang dipimpin oleh Syekh Dr. Abdullah Al-Mushlih, seorang ulama Saudi Arabia.

***

Majalah Al-I’jaz Al-Ilmi No 30, Jumadil Akhir 1429

Seorang dokter wanita Amerika sampai kepada suatu kebenaran/kepastian yang disebutkan Al-Qur’an Al-Karim dan dijelaskan Rasul Saw lebih dari 14 abad silam. Kebenaran tersebut ialah bahwa di dalam madu lebah terdapat kandungan obat untuk manusia.

Pengobatan terhadap penyakit diabetes merupakan bagian manfaat medis yang luar biasa yang terkandung dalam madu lebah yang sudah menjadi rekomendasi dalam dunia kedokteran Islam. Yang baru dari penemuan tersebut ialah bahwa kalangan ilmuan Amerika merekomendasikan keharusan merujuk (mejadikan referensi) kepada warisan Islam terkait dengan pengobatan melalui madu lebah.

Pada tahun 2002, Catherina Hulbert, seorang warga Negara Amerika mengalami kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan kakinya luka parah. Saat kecelakaan itu dia sudah menderita penyakit diabetes. Sebab itu, luka yang dideritanya tidak kunjung sembuh kendati sudah mengkonsusmsi berbagai obat dan anti biotic. Kondisi seperti itu dia alami selama delapan bulan.

Setelah melihat kondisi lukanya yang tak kunjung membaik, maka Dr Jennifer Eddy dari fakultas kedokteran Universitas Wisconsin menganjurkan untuk menggunakan madu lebah sebagai obat yang dioleskan di tempat luka. Setelah beberapa bulan melakukan pengabotan dengan madu lebah tersebut luka kaki Catherina Hulbert-pun sembuh total. Kasus tersebut menyebabkan Dr Jennifer Eddy memperoleh dukungan dari Akedemi Amerika Untuk Dokter Keluarga di wilayah Wisconsin untuk meneruskan kajiannya khusus pengobatan melalui madu lebah.

Dr Jennifer juga menjelaskan, sebelumnya dia juga pernah mengobati salah seorang pasien diabetes yang sedang menghadapi fonis amputasi setelah berbagai pengobatan yang dijalankan sang pasien mengalami kegagalan. Dr Jennifer juga menambahkan bahwa terbuktilah sudah di kalangan para ahli medis bahwa mengobati luka akibat diabetes dengan madu lebah memiliki manfaat yang banyak, khususnya bagi para pengidap penyakit diabetes di dunia saat ini jumlah mereka mencapai sekitar 200 juta orang. 15 % dari mereka mengalami sampai ke tingkat “tukak” (membusuk) sebagai akibat dari hilangnya rasa di kaki mereka.

Sedangkan persentase operasi amputasi bagi para penderita diabetes secara internasional diperkitakan terjadi setiap setengah menit satu kali. Adapun biaya operasi amputasi di Amerika saja mencapai USD 11 juta pertahun. Jennifer menambahkan, kasus Catherina Hulbert merupakan contoh nyata bagi para penderita diabetes yang mungkin diselamatkan dari kehilangan anggota tubuh mereka dengan biaya yang sangat ringan.

Seperti yang diketahui bahwa penderita diabetes mengalami penurunan kelancaran darah dalam pembulu darah mereka dan lemahnya tingkat imunitas terhadap berbagai penyakit. Ditambah lagi antibiotic yang diberikan untuk mengobati luka diabetes tidak bermanfaat disebabkan bakteri Staphylococcus Aurous akan membentuk perlawanannya sendiri. Sedangkan madu lebah menciptakan perlawanan terhadap bacteria dengan berbagai cara. Sebab itu dianggap sebagai pengabatan paling efektif bagi penyembuhan luka akibat diabetes.

Dalam madu lebah juga terdapat zat asam yang mudah berinteraksi dan tinkat kelembaban yang rendah sehingga menyebabkan madu lebah tersebut mudah membunuh bacteria. Di tambah lagi adanya enzim yang mengeluarkan acid hydrogen yang berfungsi membersihkan luka sehingga mudah membunh semua bacteria yang ada.

Akhirnya kita tutup dengan ungkapan : Sesungguhnhya pengobatan dengan madu lebah telah menjadi masalah yang sangat menarik perhatian para ilmuan di bidang kesehatan secara mendunia, khususnya pusat-pusat yang memerangi berbagai penyakit dan organisasi-organisasi kesehatan intrnasional di tengah meningkatnya macam-macan bacteria yang mampu melawan obat-obat antibiotic lainnya.

Dr Jennifer juga menekankan keharusan mendahulukan pengobatan dengan madu karena pembusukan (tukak) akibat diabetes bukan perkara mudah. Sungguh benarlah firman Allah dalam Al-Qur’an suat Annah : 68 – 69 :

وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ (68) ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (69)
Dan Tuhan Penciptamu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”.(68) Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. (QS Annahl : 68 – 69)

Selamat mencoba……

Sumber : http://www.eramuslim.com

Sidartawan Soegondo: “Melawan Diabetes dengan Banyak Beraktifitas” November 14, 2008

Posted by jakapantura in Kesehatan, diabetes.
Tags: ,
2 comments

artikel ini diambil dari http://indodiabetes.com

Artikel ini memang sengaja saya publish pada hari ini sebab hari ini adalah hari diabetes dunia, dimana di seluruh dunia dilakukan kegiatan jalan kaki untuk para penderita diabetes. Kegiatan jalan kaki tersebut disponsori oleh World Diabetes Foundation dengan thema Global Diabetes Walk, untuk mengetahui kegiatan memperingati hari diabetes dunia di Indonesia beberapa tahun lalu anda bisa lihat foto-fotonya di Gallery.

Diabetes melitus yang juga biasa disebut dengan penyakit kencing manis kelihatannya seperti penyakit biasa, tapi informasi mutakhir mengatakan penyakit ini juga cukup besar berakibat pada kematian. Bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sudah menetapkan hari diabetes menjadi salah satu hari yang harus diperingati oleh semua negara anggota sebagai satu penyakit yang berbahaya. Untuk itu bersama kita hadir Prof. Dr. Sidartawan Soegondo, seorang ahli diabetes dan Guru Besar ilmu penyakit dalam bidang endokrinologi pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI), serta Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia).

Sidartawan Soegondo mengatakan diabetes melitus bukan hanya menghinggapi orang kaya di kota, tetapi di daerah pun cukup banyak orang hidup dengan diabetes. Kalau tidak ditangani dengan baik dan cepat, diabetes bisa mengakibatkan buta, sakit jantung, dan lain-lain. Guna mencegah terkena diabetes maka harus melakukan pola hidup sehat dan banyak bergerak. Misalnya, jangan ikut-ikut makan fast food karena akan mudah menjadi gemuk sehingga akan mudah kena diabetes. Bertahanlah dengan pola hidup yang banyak makan sayur dan buah, dan banyak bergerak atau banyak melakukan aktifitas fisik, minimal 30 menit berjalan kaki setiap hari.

Berikut wawancara Faisol Riza dengan Sidartawan Soegondo.

Apa sebenarnya yang menjadi penyebab diabetes?

Penyakit diabetes atau kencing manis atau sakit gula sebetulnya bukan satu penyakit. Itu suatu kumpulan penyakit yang mempunyai gejala sama, yaitu gejala kadar glukosa atau gula di dalam darah yang jumlahnya tinggi. Sebenarnya ada empat tipe diabetes, yaitu tipe 1, tipe 2, tipe lain-lain dan tipe kehamilan (gestation). Tipe 1 terutama pada anak-anak dan remaja, seperti dulu sering dikenal insulin dependant diabetes atau diabetes yang tergantung pada insulin dan memang harus suntik insulin seumur hidup. Tipe 2, adult on set. Ini umumnya ada pada orang dewasa, 90% karena keturunan. Tipe 3 yaitu lain-lain, ini karena minum obat atau penyakit lain-lain yang mempunyai gejala gula darah tinggi. Tipe 4 gestasional yaitu seseorang sakit gula hanya bila saat hamil. Setelah melahirkan, dia tidak sakit gula. 90% kasus diabetes yang banyak terjadi adalah pada tipe 2.

Untuk masyarakat Indonesia rasanya penyakit keturunan banyak sekali dan bukan hanya diabetes. Namun untuk diabetes tentu juga ada penyebab lain selain faktor keturunan. Apa saja yang bisa menyebabkan diabetes?

Memang pada diabetes adalah faktor genetik yang diturunkan, tapi faktor pencetusnya adalah lingkungan. Lingkungan itulah yang bisa kita ubah. Karena itu kalau kita mau mencegah diabetes maka ubah lingkungannya. Yang paling penting adalah bagaimana cara supaya kita tidak gemuk. Dulu dikatakan bahwa diabetes tipe 2 menghinggapi orang di atas umur 40 tahun. Namun sekarang banyak juga pada orang lebih muda karena makin banyak orang gemuk di usia lebih muda. Dulu penderita diabetes di Amerika umur 35 tahun, namun sekarang umur 25 tahun bahkan 18 tahun pun sudah ada yang diabetes. Tipe 2 artinya yang tidak tergantung insulin dan merupakan faktor genetik atau keturunan, ini paling banyak dan ditambah pengaruh lingkungan.

Apa maksudnya faktor insulin?

Dalam struktur tubuh, yang mengatur gula darah itu adalah insulin. Ada yang kurang insulin, ada yang insulinnya sama sekali tidak ada. Ada yang mempunyai insulin tapi tidak berfungsi dengan baik. Jadi kalau yang tipe 1 tadi adalah pankreas yang membuat insulin itu rusak, sama sekali tidak punya insulin sehingga harus disuntik. Artinya, harus diberikan insulin dan kebetulan belum ada dalam bentuk tablet sehingga harus disuntik. Tipe 2 genetik, yaitu sebetulnya insulinnya cukup tapi terjadi resistensi insulin karena orang tersebut gemuk. Jadi insulin tidak berfungsi dengan baik.

Kalau seseorang bertubuh kurus tapi mempunyai gula dari faktor keturunan (genetik), apakah dia bisa mengontrol gulanya?

Sebetulnya selama dia balance, maka akan cukup kebutuhan gulanya. Orang gemuk tidak balance karena kebutuhannya lebih tinggi. Jadi untuk mencukupi kebutuhan gula di dalam tubuh kita maka dibutuhkan sekian insulin, tapi karena gemuk maka kebutuhannya lebih tinggi sehingga tidak bisa dipenuhi. Kalau orang kurus, mungkin jumlah insulin pas-pasan saja cukup sehingga tidak keluar diabetesnya. Namun begitu ada pencetusnya katakan ada infeksi berat atau sakit berat maka pada saat itu kebutuhannya meningkat sehingga keluarlah diabetesnya.

Berapa kadar insulin yang seimbang?

Ini penting juga karena diagnosis diabetes hanya bisa dilakukan dengan memeriksa kadar glukosa (gula) di dalam darah dalam dua keadaan, saat puasa yaitu 126mg/dl dan dua jam sesudah makan atau sewaktu makan yaitu 200 mg/dl. Nah jumlah kadar itu berubah beberapa tahun yang lalu menjadi 140 mg/dl. Jadi kalau gula darah sewaktu atau dua jam sesudah makan lebih dari 200 mg/dl maka itu sakit gula.

Apakah jumlah kadar glukosa itu maksimal?

Bukan maksimal, itu diagnosis. Kalau kurang dari jumlah itu dia dikatakan tidak sakit gula.

Berapa batas kadar yang dianggap berbahaya bagi seseorang?

Jadi, ada lagi yang disebut gangguan glukosa puasa yaitu risiko terjadi diabetes. Kalau dia memiliki kadar antara 100 – 126 mg/dl maka tidak normal dan itu berisiko terkena atau suatu saat akan sakit diabetes. Kalau memiliki kadar di bawah 100 mg/dl maka dikatakan normal. Jadi kalau dalam keadaan puasa seseorang memiliki kadar di bawah 120 mg/dl maka dia tidak normal. Walau dia belum sakit gula tapi memiliki risiko menjadi penderita diabetes di kemudian hari.

Bagaimana sebenarnya untuk mengetahui seseorang mengidap penyakit gula?

Sebetulnya sakit diabetes itu bukan penyakit yang menakutkan kalau sejak tahap awal sudah diketahui karena penyakit itu tidak dirasakan sama sekali. Gejala kalau mengidap gula darah tinggi adalah seseorang banyak makan, banyak minum, banyak kencing. Seorang yang tidak napsu makan akan segera ke dokter. Tapi seorang yang napsu makannya baik umumnya tidak ke dokter. Orang yang susah kencing (buang air kecil) maka akan ke dokter, tapi kalau dia kencing lancar maka tidak akan ke dokter. Jadi gejalanya banyak makan, banyak minum, banyak kencing. Itu sebetulnya suatu gejala. Jadi kalau kita makan banyak misalnya dua piring dan merasa enak saja, tidak merasa kenyang, maka mesti hati-hati apalagi disertai banyak kencing. Kalau siang hari, dia pikir karena minum banyak maka masih bisa diterima. Namun kalau malam hari, dia kencing sampai 3 – 4 kali misalnya maka harus hati-hati. Orang umumnya tidak akan ke dokter untuk gejala itu. Orang ke dokter nanti kalau dia sudah lemas, matanya mulai kabur, kakinya mulai kesemutan, luka tidak sembuh-sembuh. Itu kalau sudah lama.

Di Inggris, pemerintahnya melakukan screening ke seluruh penduduk untuk mengetahui penderita diabetes. Pada waktu seseorang diketahui menderita gula, sebanyak 50% diantaranya sudah mempunyai lebih dari satu komplikasi. Bayangkan, kita tidak pernah screening di sini. Jadi orang datang ke dokter, kalau sudah ada gejala komplikasi, bukan gejala gula, seperti luka tidak sembuh-sembuh, kaki sudah mau dipotong, sudah mau cuci darah. Misalnya, dia mual-mual ternyata ginjalnya sudah payah karena sebelumnya tidak merasakannya. Karena itu penyuluhan kami adalah mengimbau agar memeriksa kadar gula setahun sekali, apalagi jika di dalam keluarga kita ada yang mempunyai penyakit gula. Mulailah periksa dari usia 30 tahun. Bila dalam keluarga ada seorang wanita hamil yang melahirkan bayi empat kilogram, maka jangan cepat-cepat senang dan berpikir bahwa itu sehat. Mungkin itu karena ibunya sakit gula. Juga bagi orang gemuk yang memiliki tekanan darah tinggi dan perut buncit besar maka dia termasuk yang berisiko diabetes. Selain itu, berat badan turun tanpa alasan juga harus diperiksakan. Tapi tidak usah semua orang yang lewat diperiksa.

Kemana harus memeriksakannya bagi masyarakat yang ingin lebih mengetahuinya?

Periksa ke laboratorium, minta periksa gula darah. Sekarang bisa juga diperiksa dari ujung jari, pembuluh darah kapiler, walaupun itu bukan golden standard. Juga harus periksa pembuluh darah vena. Tapi paling tidak melakukan screening. Kalau sewaktu kita periksa, tidak pakai puasa, kapan saja, dengan hasil menunjukkan di atas 200 mg/dl maka itu kemungkinan diabetes. Harus diperiksakan sekali lagi dengan pemeriksaan lain yang lebih teliti. Itu pun sering banyak orang tidak tahu. Misalnya, sewaktu saya pergi ke daerah memeriksa masyarakat, mereka banyak yang tidak mengetahui bahwa hanya dengan tusuk ujung jari maka kita bisa mengetahui gula darah tinggi atau tidak. Dalam 12 detik hasilnya keluar. Kalau periksa ke laboratorium tentu diperiksa darah lebih lengkap.

Sewaktu saya pergi ke Ternate, ada seorang ibu dengan bangga menyatakan, “Hah, gula saya tinggi 400, berapa gulamu.” Dia senang memiliki kadar gula 400, dia tidak tahu bahwa itu bahaya. Saya sedih, bagaimana kita menyampaikan kepada ibu itu bahwa dia mempunyai sakit gula. Mereka tidak pernah diajarkan bahwa kalau gula tinggi itu tidak bagus. Dan kalau gula tinggi itu maka seumur hidup tidak ada sembuhnya terutama pada tipe 2.

Apa yang harus dilakukan oleh seseorang yang sudah mempunyai penyakit ini agar kadar gulanya terkontrol dan seimbang?

Tidak bisa disembuhkan, tapi bisa dikendalikan. Seorang yang diabetes bisa dikendalikan kadar gulanya sehingga bisa hidup seperti orang lain. Mengendalikannya adalah mengatur makan, aktivitas fisik. Kita tahu sekarang orang banyak yang tidak melakukan aktivitas fisik. Tidak perlu harus berolah raga berenang dan lainnya, hanya berjalan kaki 30 menit saja sudah disebut aktivitas fisik. Lalu mengendalikan makan dengan mengatur makanan berlemak, manis-manis, makanan yang menggemukkan. Makanan yang berlebihan itu menaikkan berat badan, kalau berat badan naik, gula tidak bisa dikontrol. Kalau input dan output bisa balance maka itu cukup. Tapi kadang-kadang justru itu yang susah. Mengatur makan yang susah.

Apa makanan yang tidak boleh dimakan oleh mereka yang mempunyai penyakit gula?

Pola sekarang sudah terbukti yaitu tidak ada yang tidak boleh dimakan. Seorang yang diabetes boleh makan apa saja. Perbedaannya hanya dalam jumlah yang dimakan. Kalau ada orang mengatakan, “Oh, saya mesti makan kentang tidak boleh makan nasi.” Tidak begitu. Kalau makan empat buah kentang yang besar sama juga dengan dua piring nasi. Yang penting jumlah total kalorinya. Masing-masing orang ada kebutuhan kalori. Kalau orang yang aktif sekali maka kebutuhan kalorinya tinggi. Kalau orang yang bekerja di kantor maka kebutuhan kalorinya rendah. Total kalori yang dibutuhkan untuk masing-masing orang berbeda. Tentu kalau orang yang gemuk kita usahakan untuk mengurangi kalorinya agar berat badan turun. Yang penting total kalorinya dan jadwalnya. Tentu jangan makan sehari cuma dua kali, satu kali atau lima kali. Yang betul makanlah tiga kali, dua kali snack dengan diatur jamnya. Makanlah pada waktunya jangan menunggu lapar dulu. Kalau jam 1 harus makan maka makan. Jangan ditunda, kalau ditunda nanti menjadi lapar sekali sehingga makan dua piring. Sebetulnya aturan itu berlaku bagi semua orang, asal kita bisa menjumlahkan total kalorinya. Walaupun makanan itu ada berbahan gula pasir maka perbedaannya hanya pada jumlah. Kalau sudah makan satu sendok gula pasir, maka kurangi nasinya. Kalau kita mau makan kue, makan saja tapi nasi tidak lagi. Jadi sebenarnya tidak ada makanan yang tidak boleh.

Mengenai harapan hidup orang yang menderita penyakit ini. Biasanya kalau sudah diabetes maka penyakit ini bisa kemana-mana. Apakah kalau sudah dikontrol begitu maka penderita diabetes mempunyai harapan hidup sebagaimana orang pada umumnya?

Dulu sewaktu insulin belum ditemukan memang umurnya pendek. Karena kalau gula darah naik tidak bisa apa-apa. Tapi sekarang setelah begitu banyak ditemukan obat dan teknologi sudah maju dimana menyuntik insulin tidak terasa sakit sehingga harapan hidup lebih panjang. Katakanlah dulu tidak ada cuci darah sekarang ada cuci darah sehingga umurnya bisa panjang. Kalau dulu umur 30 sudah meninggal. Kalau sekarang katakanlah umur 70, 80, 90 tahun pun ada yang masih hidup. Hanya saja yang belum adalah bagaimana kualitas hidupnya? Harapan hidup tentu akan lebih pendek kalau tidak terkendali. Kalau bisa kita kendalikan maka umurnya akan seperti orang lain. Banyak pasien saya yang berumur 80, 90 tahun gula darahnya terkendali dengan baik, tidak ada komplikasi. Cuma, kita tahu bahwa diabetes itu tidak bisa disembuhkan. Kita hanya mencegah terjadinya komplikasi pembuluh darah besar, dan pembuluh darah kecil. Kelihatannya sepele tapi pembuluh darah besar itu di otak, jantung dan kaki. Pembuluh darah di otak tersumbat bisa terkena stroke. Jika pembuluh darah di jantung kita tersumbat, maka bisa terkena penyakit jantung koroner. Jika di kaki tersumbat, kita bisa diamputasi. Pembuluh darah kecil itu ada di mata, jika terkena bisa menyebabkan buta. Jika ginjal terkena maka bisa menyebabkan gagal ginjal. Sistem saraf di kaki terkena maka kita tidak terasa apa-apa, bisa jadi kebal. Hal-hal seperti itu mengubah kualitas hidup.

Rasanya kalau dengan wilayah seluas Indonesia semestinya memiliki fasilitas yang sesuai dengan potensi penderita jumlah diabetes yang banyak dan tenaga medis yang juga memadai. Bagaimana mengenai hal tersebut selama ini?

Dapat saya sampaikan begini, menurut perhitungan badan kesehatan dunia (World Health Organization –WHO) pada tahun 2003, kita berada nomor empat untuk jumlah orang dengan diabetes di dunia. Nomor satu India, kedua China, ketiga Amerika Serikat, keempat Indonesia. Jadi bisa dibayangkan, jumlah diabetisi atau orang dengan diabetes. Waktu itu disebutkan kita ada 8,5 juta orang. Sekarang, jumlahnya mungkin jauh lebih banyak lagi. Dokter di Indonesia ada sekitar 44.000. Dari 44.000 itu ada 1.500 spesialis penyakit dalam. Diantara 1.500 spesialis penyakit dalam ada 40 konsultan endokrin yang menangani diabetes ini. Mereka hanya di 13 kota besar, sedangkan Indonesia memiliki banyak provinsi atau pulau. Di seluruh Pulau Kalimantan tidak ada konsultan endokrin. Di seluruh Sulawesi hanya ada 2 – 3 orang konsultan endoktrin yaitu hanya di Menado dan Makassar. Sedangkan di Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Maluku, Papua, Bengkulu, Jambi, Kepulauan Riau tidak ada konsultan endoktrin. Yang ada hanya di Padang, Palembang dan Medan dengan masing-masing wilayah hanya satu. Jadi begitu banyak orang yang mempunyai diabetes, tapi tenaga kesehatannya sedikit. Jadi sekarang kita mengusahakan untuk pergi ke daerah, melatih para dokter umum untuk mengobati diabetes. Yang ironis adalah selama pendidikan dokter, mengenai diabetes hanya diajarkan selama empat jam. Bisa dibayangkan kalau seorang lulusan Fakultas Kedokteran hanya empat jam belajar mengenai diabetes padahal dia harus mengobati suatu penyakit yang kronis, yang jangka panjang. Kalau di suatu daerah tidak ada spesialis penyakit dalam atau tidak ada konsultan diabetes atau endokrin, maka alangkah menyedihkan.

Apa yang harus dilakukan masyarakat di pedalaman seperti itu agar sadar dan tahu bahaya penyakit ini, dan apa yang sekarang dilakukan oleh Persadia untuk menangani kekurangan tenaga medis di daerah-daerah itu?

Kami sekarang pergi ke daerah-daerah, ke tingkat kabupaten menyampaikan kepada pemerintah daerah dan masyarakat bahwa perubahan gaya hidup akan membawa dampak. Jangan ikut-ikutan orang kota. Harus banyak melakukan aktifitas fisik. Pertahankan pola makan yang sudah baik. Jangan ikut-ikut makan fast food atau makanan seperti orang barat atau kota besar karena akan mudah menjadi gemuk, akan mudah kena penyakit dan kalau sudah kena penyakit yang tidak bisa disembuhkan itu alangkah menyedihkannya. Pemerintah sudah banyak berusaha, tapi kita tahu sendiri bahwa untuk sampai ke daerah-daerah seperti itu obat-obatan masih sangat terbatas. Yang saya tahu Menteri Kesehatan sudah mencari terobosan-terobosan untuk melayani orang dengan diabetes ini karena ujung-ujungnya nanti kalau tidak ditangani dengan cepat bisa mengakibatkan kebutaan, sakit jantung, dan lain-lain. Kita mempromosikan gaya hidup sehat supaya mereka bertahan dengan pola hidup yang banyak bergerak, banyak makan sayur, buah, jangan makan manis, berlemak. Sering kali orang daerah makan banyak nasi, hanya dengan ikan asin dan sambel saja, menu seperti itu berkalori tinggi.

Nah ini juga menyangkut soal struktur sosial ekonomi kita. Orang mengatakan kalau miskin maka akan memiliki banyak penyakit karena memang mereka tidak bisa memenuhi kadar gizi yang memadai. Menyangkut ini saya kira pasti ada hubungannya dengan kualitas hidup seseorang. Bagaimana cara masyarakat yang juga secara ekonomi kurang mampu bisa juga memenuhi kebutuhan gizi yang sehat?

Ya, memang kita lihat ironis. Mereka makan apa adanya, sehingga kadang makan berlebih saat kalau mempunyai uang banyak. Mereka tidak sadar bahwa penyakit diabetes itu bukan hanya penyakit orang kaya. Di daerah pun cukup banyak orang dengan diabetes. Bedanya, kalau orang yang di kota, mereka menyadarinya sehingga kalau mereka gemuk berusaha fitness. Kalau ada makanan yang rendah kolesterol dan sugar free, mereka berusaha memilihnya. Sementara di daerah hal itu tidak ada. Jadi sebelum mereka melakukan itu, lebih baik kita sampaikan pesan hiduplah sehat, banyak bergerak. Dulu di daerah-daerah orang berjalan untuk pergi ke sawah, sekarang naik ojek. Akibatnya, aktifitas fisik berkurang. Mungkin dia masih memacul, tapi jalannya sudah tidak lagi. Kemana-mana motor sudah ada. Kalau orang kota masih senam, jalan pagi, sedangkan mereka yang di daerah merasa sudah cukup dengan kerja. Nah, aktifitas fisik yang berkurang ini nanti membuat mereka lebih gemuk. Kalau sudah gemuk bisa gula. Urusannya jadi panjang. Nah sebelum sampai berakibat itu, pemerintah daerah harus sadar dengan menyediakan fasilitas-fasilitas, seperti fasilitas olah raga, fasilitas yang membuat mereka berjalan atau melakukan suatu kegiatan. Apalagi kini fast food juga semakin banyak, itu membuat mereka jadi gemuk. Susah kalau sudah terlanjur.

Apakah ada contoh yang menggambarkan pola hidup masyarakat di daerah yang baik untuk mengontrol diabetes, misalnya tradisi makan atau gaya hidupnya?

Kita tahu masyarakat Jawa Barat banyak makan sayur. Katanya, kalau ditaruh di lapangan bisa hidup karena semua lalapan, sekarang tidak begitu lagi. Mereka makannya sudah fast food, makanan tradisional sudah jarang. Sementara di daerah tertentu memang makanan tradisionalnya mengandung banyak fat, artinya banyak daging. Makanan daerah yang susah sayur lebih banyak manis dan banyak lemak sehingga kalau mereka tidak melakukan aktifitas fisik makin banyak yang gemuk. Saya membayangkan begini, kalau dulu orang untuk hidup maka makanan harus berburu, tidak berburu tidak makan, sehingga orang tidak ada yang gemuk. Semua ramping, kurus, dan cepat. Kalau tidak dia makan maka dia dimakan. Kemudian berubah sampai orang bercocok tanam. Orang tidak mudah untuk makan kalau dia tidak menanam. Sekarang orang tidak menanam, tidak berburu, orang tukar dengan kertas (duit – Red) untuk makan. Nah pola hidup manusia yang dulu menyebabkan tidak ada sakit gula. Sekarang ada sakit gula karena tanpa usaha sedikit pun, hanya tukar kertas maka ia bisa makan.

Apakah semestinya juga kembali ke periode dimana pemerintah zaman dulu mengatakan mengolahragakan masyarakat, memasyarakatkan olahraga?

Kalau olah raga mungkin harus disediakan fasilitas. Karena itu PBB, WHO, atau pemerintah mengatakannya, “Walk 30 minutes everyday or walk 30 minutes most days in a week.” (berjalanlah selama 30 menit setiap hari – red) Itu realistis, kalau disuruh berolah raga maka dia harus membeli raket atau alat olah raga lainnya. Jadi jalan saja, dimana saja, dengan siapa saja, selama 30 menit.

Sumber : http://www.perspektifbaru.com

http:/www.indodiabetes.com


Diabetes Bukanlah Penyakit Gula Darah! Oktober 20, 2008

Posted by jakapantura in Kesehatan, diabetes.
Tags: ,
4 comments

Diambil dari http://healindonesia.wordpress.com

Diabetes Bukanlah Penyakit Gula Darah!, Oleh: Ron Rosedale, MD

Seperti yang saya nyatakan sebelumnya dan satu konsep yang saya ingin semua orang ketahui untuk menyelamatkan ribuan atau bahkan jutaan nyawa adalah bahwa diabetes bukanlah penyakit gula darah, tapi merupakan penyakit insulin dan mungkin lebih penting lagi yaitu penyakit signal leptin. Dan ketika konsep ini mulai diketahui di komunitas medis, artikel-artikel seperti ini secara otomatis pasti akan terus dipublikasikan sehingga terungkaplah kekurangan pengobatan medis konvensional dalam mengatasi penyakit-penyakit kronis seperti misalnya diabetes dan penyakit jantung, serta kesalahan mereka tentang nutrisi.

Ciri khas dari perawatan konvensional adalah mengatasi gejala, dalam kasus ini berarti naiknya kadar gula darah dan bukannya fokus kepada penyebabnya. Gejala merupakan cara alam mengajarkan tubuh kita bagaimana caranya mengatasi suatu penyakit. Sebagai contoh, pilek adalah gejala yang dirancang untuk membersihkan hidung dan sinus dari virus dan bakteri ketika seseorang sedang “flu”. Minum decongestant akan menghalangi mekanisme tubuh kita dalam mengatasi infeksi tersebut dan dengan demikian akan memperpanjang infeksi.

Sama juga dengan perawatan yang berfokus semata-mata hanya untuk mengurangi kadar gula bagi diabetes dengan cara meningkatkan insulin, akan dapat memperparah diabetes itu sendiri dibandingkan jika kita mengobati masalah sesungguhnya, yaitu “miskomunikasi metabolik”. Penanganan seperti ini sama saja dengan lingkaran setan. Naiknya level insulin berhubungan dan bahkan menyebabkan:

  • penyakit jantung,
  • peripheral vascular,
  • stroke,
  • tekanan darah tinggi,
  • kanker,
  • kegemukan dan
  • masih banyak penyakit lainnya.

Sejak kebanyakan perawatan untuk diabetes (tipe 2, kebal insulin) menggunakan obat-obatan yang menaikkan insulin atau menyuntikkan insulin, hasilnya pun menjadi tragis, dimana perawatan medis konvensional malah menimbulkan beberapa efek samping dan memperpendek usia pasien.

Untuk Bisa Menang, Ketahuilah Musuhmu

Pengobatan konvensional tidaklah cocok untuk diabetes. Selama 2 milenium diabetes dianggap sebagai penyakit gula. Walaupun berabad-abad telah ada perkembangan ilmu pengetahuan seperti misalnya ditemukannya insulin dan akhir-akhir ini adalah ditemukannya leptin, tetap saja dunia medis konvensional tidak berubah. Sepertinya obat medis membuat sedikit atau bahkan tidak ada perubahan pada diabetes. Lebih jauh lagi, peran insulin yang sebenarnya dalam tubuh kita, telah disalahpahami secara luas di antara komunitas medis.

Peran Utama Insulin Bukanlah Untuk Menurunkan Kadar Gula Darah

Ini mungkin mengejutkan Anda, begitu juga dengan dokter Anda, bahwa peran utama insulin dalam tubuh kita bukanlah untuk mengendalikan kadar gula darah. Pengendalian gula darah pada umumnya ke arah atas, bukannya ke bawah. Beberapa jenis jaringan dan sel dalam tubuh kita seperti misalnya sel darah merah, memerlukan glukosa untuk energi (sisanya lebih cenderung membakar lemak atau ketone dari hasil metabolism lemak). Oleh karena itu adalah penting untuk selalu memiliki sedikit glukosa di dalam darah kita.

Dari sejak dahulu kala, trik alam adalah menjaga agar gula dalam darah tidak sampai terlalu rendah karena dulu tidak banyak ada gula. Kebanyakan tajin dan padi-padian yang akan diubah menjadi gula tidak bisa dicerna kecuali dimasak. Anda pasti akan memaksa rahang dengan keras untuk bisa mengunyah kentang yang tidak dimasak.

Sumber utama gula adalah dari buah-buahan dan biasanya tersedia secara musiman. Dan bahkan kita perlu bekerja dan berjuang untuk bisa mendapatkannya. Setelah itu, tubuh “membakar” gula dari buah yang kita makan serta tubuh kita otomatis menjaga gula tersebut untuk tidak naik terlalu tinggi. Hormon-hormon seperti cortisone, epinephrine, norepinephrine, glucagon, dan hormone pertumbuhan memastikan bahwa kita memiliki cukup glukosa bagi sel atau jaringan tubuh yang membutuhkannya.

Gula Darah Tinggi Jaman Dulu Jarang Ada Namun ketika kadar gula kita mulai naik, ini adalah suatu tanda bahwa kita telah memiliki energi yang lebih untuk bisa kita bakar dan dengan demikian, tubuh berpikir bahwa adalah ide yang baik jika tubuh menyimpan kelebihan yang ada. Boleh dikata, “agar tidak mubazir”, toh makanan tidak selalu tersedia. “Makan atau lapar” adalah hukum alam yang berlaku di sini.

Pada saat gula darah naik, ini adalah suatu tanda bagi insulin untuk terlepas dan mengarahkan kelebihan energi ke dalam penyimpanan. Sejumlah kecil tersimpan sebagai tajin yang disebut glycogen di dalam tubuh, tapi kebanyakan disimpan sebagai stok energi utama kita, yaitu lemak. Demikianlah kita tahu bahwa peran utama insulin bukanlah untuk menurunkan kadar gula darah, tapi untuk menyimpan kelebihan energi yang ada bagi keperluan di masa datang.

Insulin menurunkan kadar glukosa sebagai efek samping dari mengarahkan kelebihan energi ke penyimpanan. Peran insulin bahkan melangkah lebih jauh lagi dari itu. Insulin saat ini sedang diteliti dengan penuh perhatian oleh para ilmuwan yang mempelajari biologi penuaan. Telah ditemukan bahwa ketika insulin dipertahankan tetap rendah, baik itu dengan cara diet atau lewat manipulasi genetik pada hewan percobaan, ternyata mereka hidup lebih lama dan penuaanpun berkurang. Ini terbukti benar pada spesies hewan yang berbeda-beda, mulai dari sel tunggal ragi, kemudian cacing, lalat, dan sepertinya juga pada primata.

Kelihatannya, rendahnya insulin adalah suatu tanda bahwa energi yang ada adalah langka dan hewan perlu memfokuskan energi mereka untuk mempertahankan dan memperbaiki metabolisme mereka sendiri sehingga mereka bisa lebih lama bertahan hidup dan berkembangbiak. Jadi peran insulin adalah mengendalikan gula darah, menyimpan stok energi, dan juga mengatur tingkat penuaan termasuk gejala-gejala utama dari penuaan, seperti misalnya: diabetes, penyakit jantung, obesitas, osteoporosis, demensia, dan bahkan kanker.

Semua Penyakit Kronis Dikarenakan Oleh Karena Miskomunikasi Pesan di Dalam dan Di Antara Sel

Sebagaimana pernah saya nyatakan dalam artikel sebelumnya, semua penyakit kronis terjadi oleh karena adanya miskomunikasi pesan di dalam dan di antara sel. Tentu saja diabetes merupakan penyakit miskomunikasi pada insulin dan mengenal peran sebenarnya dari insulin bagi tubuh akan membantu kita untuk bisa menggali lebih dalam lagi akar permasalahan diabetes dan penyakit kronis lainnya.

Insulin Juga Belum Tentu Merupakan Hormon Paling Utama dalam Diabetes atau Penyakit Kronis Lainnya

Penghormatan paling utama jatuh pada leptin. Nampak sepertinya hormon leptin secara meluas bertanggung jawab terhadap keakuratan signal insulin dan menentukan apakah seseorang bakal kebal insulin (insulin resistant / diabetes tipe 2) atau tidak.

Leptin, hormon yang baru-baru ini ditemukan diproduksi dari lemak, berfungsi memberi informasi kepada tubuh dan otak tentang berapa banyak energi yang dimiliki, apakah perlu tambahan lagi (melalui rasa lapar) atau apakah perlu menghilangkan beberapa (stop rasa lapar), dan yang penting juga memberi informasi akan apa yang harus dilakukan dengan energi yang telah dimiliki (diproduksi kembali, meregulasi perbaikan sel atau tidak).

Penelitian penting baru-baru ini mengungkapkan 2 organ tubuh paling penting yang akan menentukan apakah seseorang menjadi diabetes (tipe 2) atau tidak adalah organ hati dan otak, dan itu pun bergantung dari kedua organ ini dalam “mendengar “ pesan dari leptin.

Leptin sangat mempengaruhi (jika tidak mengendalikan) fungsi dari hypothalamus dalam otak kita, termasuk:

  • Reproduksi,
  • Fungsi Thyroid,
  • Fungsi Adrenal dan,
  • Sistem syaraf simpatik.

Lemak dan leptin, sangat mempengaruhi peradangan kronis dan dengan demikian penyakit-penyakit yang berhubungan dengan hal ini adalah termasuk penyakit jantung, Alzheimer, dan diabetes. Sekarang telah nampak bahwa dalam kasus ini bukanlah otak yang mengendalikannya, tapi lemak melalui leptin yang berperan utama.

Sang Musuh Bukan Hanya Asing Bagi Komunitas Medis, Tapi Juga Tidak Dimengerti Sama Sekali

Tidaklah heran jika diabetes (tipe 2) tidak bisa ditaklukkan oleh medis konvensional.

Dari statistik yang ada, diabetes telah meningkat lebih dari 700% selama 50 tahun ini. Ini mengungkapkan 2 fakta yang sangat penting:

  • Diabetes bukanlah penyakit genetika karena statistik diambil dari tempat dengan generasi yang sama dan genetika yang sama.
  • Apa yang telah kita lakukan sudah jelas salah dan perlu dirubah.

Apa yang salah itu adalah diet (pola makan).

Adalah susah atau bahkan mustahil untuk membuktikan bahwa sesuatu itu benar. Namun tidaklah susah untuk membuktikan bahwa sesuatu itu salah. Selama 50 tahun, orang Amerika telah mengikuti (setidaknya sebagian) rekomendasi nutrisi yang pola makannya kaya akan karbohidrat kompleks dan rendah lemak jenuh dari:

  • American Dietetic Association,
  • American Heart Association, dan
  • American Diabetes Association

Ini merupakan kekonyolan karena kebanyakan dari karbohidrat kompleks tersebut, seperti misalnya kentang, nasi, sereal, pasta, dan roti dengan cepat diubah menjadi gula oleh tubuh dan kelebihan gula yang ada (glukosa) dengan cepat diubah menjadi asam lemah jenuh berantai panjang (palmitic acid; “palm oil”). Serentak dengan rekomendasi diet yang salah tersebut, tingkat diabetes dan obesitas jadi melambung tinggi dan menjadi salah satu epidemik dunia terburuk dari yang pernah ada.

Makan dengan pola tinggi karbohidrat “kompleks” dan rendah lemak jenuh untuk mencapai kesehatan yang baik dan umur panjang telah terbukti salah. Setidaknya ada sedikit akal sehat yang mengatakan pada kita untuk mencoba diet yang lain.

Diabetes adalah Penyakit Nutrisi dan Sains Nutrisilah yang Bisa Mengatasinya

Ilmu pengetahuan atau sains memberitahukan kepada kita bahwa kita harus memiliki pola makan atau diet yang memaksimalkan keakuratan penyampaian pesan insulin dan leptin kepada sel tubuh kita. Dan cara untuk supaya penyampaian pesan kedua hormone tersebut bisa “terdengar” dengan baik adalah dengan merendahkan level insulin dan leptin itu sendiri.

Itu berarti pola makan Anda haruslah menekankan pngkonsumsian lemak yang baik dan mengurangi karbohidrat non-serat/tajin sebagaimana tertulis di buku saya “The Rosedale Diet” dan buku Dr. Mercola, “Total Health Program“. Dengan melakukan hal tersebut akan meningkatkan dengan drastic bahkan menyembuhkan diabetes tipe 2, penyakit jantung, hipertensi, dan banyak penyakit kronis lainnya bahkan memperlambat penuaan itu sendiri, sebagaimana banyak dari pasien saya yang sanggup secara total menghentikan penggunaan obat-obatan mereka termasuk insulin. Dengan mengikuti panduan tadi, Anda (dan gen Anda), akan “menjadi yang terbaik dari apa yang Anda inginkan.”

Referensi: http://articles.mercola.com/sites/articles/archive/2005/05/31/diabetes-disease.aspx

KOMENTAR AWAN

Menaklukkan diabetes dengan teknik Ron Rosedale telah terbukti dari pengalaman saya sendiri. Tiap pasien diabetes yang saya rawat selalu saya berikan perbaikan nutrisi dan hasilnya sungguh mencengangkan dan lebih cepat dari yang saya duga.

Pernah saya memiliki pasien dengan diabetes tipe 2 yang kondisinya sangat parah. Sebut saja nama beliau adalah Bu Ani. Beliau adalah wanita berusia 70-an tahun, menderita diabetes selama 30-an tahun dan oleh karena diabetesnya, beliau buta selama belasan tahun. Untuk kebutaannya, Bu Ani telah dioperasi laser namun tidak ada perbaikan sama sekali pada kedua matanya. Selain itu, kondisi tubuh Bu Ani sangat lemah, tidak bisa bergerak kemana-mana, kurus, dan dalam sehari bisa mencret 7 kali. Sungguh keadaan yang menyedihkan.

Saya cek apa saja yang sebenarnya telah diberikan oleh dokter dan bagaimana dietnya. Saya mendapati bahwa apa yang dianjurkan oleh dokter adalah salah begitu juga dengan obat-obatan yang dikonsumsi. Jadi saya menganjurkan supaya keluarga Bu Ani jangan memberikan obat-obatan dokter lagi dan mengganti diet dokter dengan diet saya.

Mereka melakukan apa yang saya anjurkan dan tiga hari kemudian diarenya berhenti total dan sebulan kemudian ada perbaikan pada penglihatannya dan Bu Ani bisa bebas bergerak ke mana saja Bu Ani kehendaki.

Kemajuan yang dialami Bu Ani ini sungguh mengejutkan saya sendiri karena kalkulasi saya adalah jika beliau sudah 30-an tahun menderita diabetes dan kondisinya makin parah pada waktu itu, mungkin saya perlu waktu 6 bulan untuk memulihkannya. Tapi ternyata Bu Ani bisa pulih dalam waktu yang sangat cepat.

Sekarang bagi pembaca yang menderita diabetes atau mungkin Anda memiliki keluarga yang menderita diabetes, silahkan memilih perawatan manakah yang akan Anda ambil: perawatan medis dokter atau perawatan holistik modern.

Perawatan medis dokter didasarkan pada teknik buatan manusia sedangkan penyembuhan holistik modern didasarkan pada ilmu pengetahuan mengenai alam ciptaan Tuhan dan bagaimana memanfaatkannya.

Manakah yang Anda percaya paling manjur, alam ciptaan Tuhan atau obat-obatan buatan manusia?

KOMENTAR SAYA

Pengalaman saya seperti yang sudah saya tulis disini
dan disini setidaknya memberikan gambaran bahwa obat herbal mempunyai efek yang lebih baik dari obat dokter dalam kasus DM.

saya tidak berani menyalahkan obat dokter karena saya bukan peneliti ataupun ahlinya, saya hanya berkaca dari pengalaman. mertua saya, oang tua teman2 saya yang penderita DM selain mengkonsumsi obat dokter juga mengkonsumsi obat herbal seperti : teh cincau, biji mahoni, herbal dari sinshe, mahkota dewa dll. dan anda tau pola makan mereka?? mereka makan seperti biasa dan juga olahraga. rata rata mereka ini menderita DM lebih dari 15 tahun namun dengan pola makan tanpa diet dan belum terkena komplikasi sampe saat ini. bayangkan jika mereka juga diet dengan benar setidaknya mengurangi gula dan karbohidrat. sekarang anda bandingkan dengan orang2 yang anda kenal sudah menderita DM puluhan tahun tapi hanya mengkonsumsi obat dokter terutama yang tidak diet. bgmn kesehatan mereka setelah puluhan tahun menderita DM?

Tidaklah Allah SWT menurunkan suatu penyakit tanpa ada obatnya..inilah yang saya pegang. artinya sebenarnya alam sudah memberikan obat untuk segala penyakit yang kita derita namun kebanyakan orang lebih percaya obat buatan manusia. saya hanya berharap selain mengkonsumsi obat dokter cobalah mengkonsumsi herbal yang cocok untuk penyakit tsb. seandainya ada progres yang bagus hendaknya konsumsi obat dokter yang dikurangi sampe benar2 lepas dari obat dokter tersebut.. tentu saja penggunaan baik obat dokter maupun herbal harus diawasi oleh ahlinya. janganlah mencoba sesuatu tanpa pengawasan dari ahlinya

Alangkah indahnya kalo dokter di Indonesia juga mulai melirik obat herbal yang dikombinasikan dengan obat buatan. juga alangkah baiknya penelitian2 tentang herbal alami dipublikasikan secara besar2an dan juga didukung pemerintah dengan lebih banyak dana yang dikeluarkan untuk penelitia lebih lanjut..