Sidartawan Soegondo: “Melawan Diabetes dengan Banyak Beraktifitas”

artikel ini diambil dari http://indodiabetes.com

Artikel ini memang sengaja saya publish pada hari ini sebab hari ini adalah hari diabetes dunia, dimana di seluruh dunia dilakukan kegiatan jalan kaki untuk para penderita diabetes. Kegiatan jalan kaki tersebut disponsori oleh World Diabetes Foundation dengan thema Global Diabetes Walk, untuk mengetahui kegiatan memperingati hari diabetes dunia di Indonesia beberapa tahun lalu anda bisa lihat foto-fotonya di Gallery.

Diabetes melitus yang juga biasa disebut dengan penyakit kencing manis kelihatannya seperti penyakit biasa, tapi informasi mutakhir mengatakan penyakit ini juga cukup besar berakibat pada kematian. Bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sudah menetapkan hari diabetes menjadi salah satu hari yang harus diperingati oleh semua negara anggota sebagai satu penyakit yang berbahaya. Untuk itu bersama kita hadir Prof. Dr. Sidartawan Soegondo, seorang ahli diabetes dan Guru Besar ilmu penyakit dalam bidang endokrinologi pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI), serta Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia).

Sidartawan Soegondo mengatakan diabetes melitus bukan hanya menghinggapi orang kaya di kota, tetapi di daerah pun cukup banyak orang hidup dengan diabetes. Kalau tidak ditangani dengan baik dan cepat, diabetes bisa mengakibatkan buta, sakit jantung, dan lain-lain. Guna mencegah terkena diabetes maka harus melakukan pola hidup sehat dan banyak bergerak. Misalnya, jangan ikut-ikut makan fast food karena akan mudah menjadi gemuk sehingga akan mudah kena diabetes. Bertahanlah dengan pola hidup yang banyak makan sayur dan buah, dan banyak bergerak atau banyak melakukan aktifitas fisik, minimal 30 menit berjalan kaki setiap hari.

Berikut wawancara Faisol Riza dengan Sidartawan Soegondo.

Apa sebenarnya yang menjadi penyebab diabetes?

Penyakit diabetes atau kencing manis atau sakit gula sebetulnya bukan satu penyakit. Itu suatu kumpulan penyakit yang mempunyai gejala sama, yaitu gejala kadar glukosa atau gula di dalam darah yang jumlahnya tinggi. Sebenarnya ada empat tipe diabetes, yaitu tipe 1, tipe 2, tipe lain-lain dan tipe kehamilan (gestation). Tipe 1 terutama pada anak-anak dan remaja, seperti dulu sering dikenal insulin dependant diabetes atau diabetes yang tergantung pada insulin dan memang harus suntik insulin seumur hidup. Tipe 2, adult on set. Ini umumnya ada pada orang dewasa, 90% karena keturunan. Tipe 3 yaitu lain-lain, ini karena minum obat atau penyakit lain-lain yang mempunyai gejala gula darah tinggi. Tipe 4 gestasional yaitu seseorang sakit gula hanya bila saat hamil. Setelah melahirkan, dia tidak sakit gula. 90% kasus diabetes yang banyak terjadi adalah pada tipe 2.

Untuk masyarakat Indonesia rasanya penyakit keturunan banyak sekali dan bukan hanya diabetes. Namun untuk diabetes tentu juga ada penyebab lain selain faktor keturunan. Apa saja yang bisa menyebabkan diabetes?

Memang pada diabetes adalah faktor genetik yang diturunkan, tapi faktor pencetusnya adalah lingkungan. Lingkungan itulah yang bisa kita ubah. Karena itu kalau kita mau mencegah diabetes maka ubah lingkungannya. Yang paling penting adalah bagaimana cara supaya kita tidak gemuk. Dulu dikatakan bahwa diabetes tipe 2 menghinggapi orang di atas umur 40 tahun. Namun sekarang banyak juga pada orang lebih muda karena makin banyak orang gemuk di usia lebih muda. Dulu penderita diabetes di Amerika umur 35 tahun, namun sekarang umur 25 tahun bahkan 18 tahun pun sudah ada yang diabetes. Tipe 2 artinya yang tidak tergantung insulin dan merupakan faktor genetik atau keturunan, ini paling banyak dan ditambah pengaruh lingkungan.

Apa maksudnya faktor insulin?

Dalam struktur tubuh, yang mengatur gula darah itu adalah insulin. Ada yang kurang insulin, ada yang insulinnya sama sekali tidak ada. Ada yang mempunyai insulin tapi tidak berfungsi dengan baik. Jadi kalau yang tipe 1 tadi adalah pankreas yang membuat insulin itu rusak, sama sekali tidak punya insulin sehingga harus disuntik. Artinya, harus diberikan insulin dan kebetulan belum ada dalam bentuk tablet sehingga harus disuntik. Tipe 2 genetik, yaitu sebetulnya insulinnya cukup tapi terjadi resistensi insulin karena orang tersebut gemuk. Jadi insulin tidak berfungsi dengan baik.

Kalau seseorang bertubuh kurus tapi mempunyai gula dari faktor keturunan (genetik), apakah dia bisa mengontrol gulanya?

Sebetulnya selama dia balance, maka akan cukup kebutuhan gulanya. Orang gemuk tidak balance karena kebutuhannya lebih tinggi. Jadi untuk mencukupi kebutuhan gula di dalam tubuh kita maka dibutuhkan sekian insulin, tapi karena gemuk maka kebutuhannya lebih tinggi sehingga tidak bisa dipenuhi. Kalau orang kurus, mungkin jumlah insulin pas-pasan saja cukup sehingga tidak keluar diabetesnya. Namun begitu ada pencetusnya katakan ada infeksi berat atau sakit berat maka pada saat itu kebutuhannya meningkat sehingga keluarlah diabetesnya.

Berapa kadar insulin yang seimbang?

Ini penting juga karena diagnosis diabetes hanya bisa dilakukan dengan memeriksa kadar glukosa (gula) di dalam darah dalam dua keadaan, saat puasa yaitu 126mg/dl dan dua jam sesudah makan atau sewaktu makan yaitu 200 mg/dl. Nah jumlah kadar itu berubah beberapa tahun yang lalu menjadi 140 mg/dl. Jadi kalau gula darah sewaktu atau dua jam sesudah makan lebih dari 200 mg/dl maka itu sakit gula.

Apakah jumlah kadar glukosa itu maksimal?

Bukan maksimal, itu diagnosis. Kalau kurang dari jumlah itu dia dikatakan tidak sakit gula.

Berapa batas kadar yang dianggap berbahaya bagi seseorang?

Jadi, ada lagi yang disebut gangguan glukosa puasa yaitu risiko terjadi diabetes. Kalau dia memiliki kadar antara 100 – 126 mg/dl maka tidak normal dan itu berisiko terkena atau suatu saat akan sakit diabetes. Kalau memiliki kadar di bawah 100 mg/dl maka dikatakan normal. Jadi kalau dalam keadaan puasa seseorang memiliki kadar di bawah 120 mg/dl maka dia tidak normal. Walau dia belum sakit gula tapi memiliki risiko menjadi penderita diabetes di kemudian hari.

Bagaimana sebenarnya untuk mengetahui seseorang mengidap penyakit gula?

Sebetulnya sakit diabetes itu bukan penyakit yang menakutkan kalau sejak tahap awal sudah diketahui karena penyakit itu tidak dirasakan sama sekali. Gejala kalau mengidap gula darah tinggi adalah seseorang banyak makan, banyak minum, banyak kencing. Seorang yang tidak napsu makan akan segera ke dokter. Tapi seorang yang napsu makannya baik umumnya tidak ke dokter. Orang yang susah kencing (buang air kecil) maka akan ke dokter, tapi kalau dia kencing lancar maka tidak akan ke dokter. Jadi gejalanya banyak makan, banyak minum, banyak kencing. Itu sebetulnya suatu gejala. Jadi kalau kita makan banyak misalnya dua piring dan merasa enak saja, tidak merasa kenyang, maka mesti hati-hati apalagi disertai banyak kencing. Kalau siang hari, dia pikir karena minum banyak maka masih bisa diterima. Namun kalau malam hari, dia kencing sampai 3 – 4 kali misalnya maka harus hati-hati. Orang umumnya tidak akan ke dokter untuk gejala itu. Orang ke dokter nanti kalau dia sudah lemas, matanya mulai kabur, kakinya mulai kesemutan, luka tidak sembuh-sembuh. Itu kalau sudah lama.

Di Inggris, pemerintahnya melakukan screening ke seluruh penduduk untuk mengetahui penderita diabetes. Pada waktu seseorang diketahui menderita gula, sebanyak 50% diantaranya sudah mempunyai lebih dari satu komplikasi. Bayangkan, kita tidak pernah screening di sini. Jadi orang datang ke dokter, kalau sudah ada gejala komplikasi, bukan gejala gula, seperti luka tidak sembuh-sembuh, kaki sudah mau dipotong, sudah mau cuci darah. Misalnya, dia mual-mual ternyata ginjalnya sudah payah karena sebelumnya tidak merasakannya. Karena itu penyuluhan kami adalah mengimbau agar memeriksa kadar gula setahun sekali, apalagi jika di dalam keluarga kita ada yang mempunyai penyakit gula. Mulailah periksa dari usia 30 tahun. Bila dalam keluarga ada seorang wanita hamil yang melahirkan bayi empat kilogram, maka jangan cepat-cepat senang dan berpikir bahwa itu sehat. Mungkin itu karena ibunya sakit gula. Juga bagi orang gemuk yang memiliki tekanan darah tinggi dan perut buncit besar maka dia termasuk yang berisiko diabetes. Selain itu, berat badan turun tanpa alasan juga harus diperiksakan. Tapi tidak usah semua orang yang lewat diperiksa.

Kemana harus memeriksakannya bagi masyarakat yang ingin lebih mengetahuinya?

Periksa ke laboratorium, minta periksa gula darah. Sekarang bisa juga diperiksa dari ujung jari, pembuluh darah kapiler, walaupun itu bukan golden standard. Juga harus periksa pembuluh darah vena. Tapi paling tidak melakukan screening. Kalau sewaktu kita periksa, tidak pakai puasa, kapan saja, dengan hasil menunjukkan di atas 200 mg/dl maka itu kemungkinan diabetes. Harus diperiksakan sekali lagi dengan pemeriksaan lain yang lebih teliti. Itu pun sering banyak orang tidak tahu. Misalnya, sewaktu saya pergi ke daerah memeriksa masyarakat, mereka banyak yang tidak mengetahui bahwa hanya dengan tusuk ujung jari maka kita bisa mengetahui gula darah tinggi atau tidak. Dalam 12 detik hasilnya keluar. Kalau periksa ke laboratorium tentu diperiksa darah lebih lengkap.

Sewaktu saya pergi ke Ternate, ada seorang ibu dengan bangga menyatakan, “Hah, gula saya tinggi 400, berapa gulamu.” Dia senang memiliki kadar gula 400, dia tidak tahu bahwa itu bahaya. Saya sedih, bagaimana kita menyampaikan kepada ibu itu bahwa dia mempunyai sakit gula. Mereka tidak pernah diajarkan bahwa kalau gula tinggi itu tidak bagus. Dan kalau gula tinggi itu maka seumur hidup tidak ada sembuhnya terutama pada tipe 2.

Apa yang harus dilakukan oleh seseorang yang sudah mempunyai penyakit ini agar kadar gulanya terkontrol dan seimbang?

Tidak bisa disembuhkan, tapi bisa dikendalikan. Seorang yang diabetes bisa dikendalikan kadar gulanya sehingga bisa hidup seperti orang lain. Mengendalikannya adalah mengatur makan, aktivitas fisik. Kita tahu sekarang orang banyak yang tidak melakukan aktivitas fisik. Tidak perlu harus berolah raga berenang dan lainnya, hanya berjalan kaki 30 menit saja sudah disebut aktivitas fisik. Lalu mengendalikan makan dengan mengatur makanan berlemak, manis-manis, makanan yang menggemukkan. Makanan yang berlebihan itu menaikkan berat badan, kalau berat badan naik, gula tidak bisa dikontrol. Kalau input dan output bisa balance maka itu cukup. Tapi kadang-kadang justru itu yang susah. Mengatur makan yang susah.

Apa makanan yang tidak boleh dimakan oleh mereka yang mempunyai penyakit gula?

Pola sekarang sudah terbukti yaitu tidak ada yang tidak boleh dimakan. Seorang yang diabetes boleh makan apa saja. Perbedaannya hanya dalam jumlah yang dimakan. Kalau ada orang mengatakan, “Oh, saya mesti makan kentang tidak boleh makan nasi.” Tidak begitu. Kalau makan empat buah kentang yang besar sama juga dengan dua piring nasi. Yang penting jumlah total kalorinya. Masing-masing orang ada kebutuhan kalori. Kalau orang yang aktif sekali maka kebutuhan kalorinya tinggi. Kalau orang yang bekerja di kantor maka kebutuhan kalorinya rendah. Total kalori yang dibutuhkan untuk masing-masing orang berbeda. Tentu kalau orang yang gemuk kita usahakan untuk mengurangi kalorinya agar berat badan turun. Yang penting total kalorinya dan jadwalnya. Tentu jangan makan sehari cuma dua kali, satu kali atau lima kali. Yang betul makanlah tiga kali, dua kali snack dengan diatur jamnya. Makanlah pada waktunya jangan menunggu lapar dulu. Kalau jam 1 harus makan maka makan. Jangan ditunda, kalau ditunda nanti menjadi lapar sekali sehingga makan dua piring. Sebetulnya aturan itu berlaku bagi semua orang, asal kita bisa menjumlahkan total kalorinya. Walaupun makanan itu ada berbahan gula pasir maka perbedaannya hanya pada jumlah. Kalau sudah makan satu sendok gula pasir, maka kurangi nasinya. Kalau kita mau makan kue, makan saja tapi nasi tidak lagi. Jadi sebenarnya tidak ada makanan yang tidak boleh.

Mengenai harapan hidup orang yang menderita penyakit ini. Biasanya kalau sudah diabetes maka penyakit ini bisa kemana-mana. Apakah kalau sudah dikontrol begitu maka penderita diabetes mempunyai harapan hidup sebagaimana orang pada umumnya?

Dulu sewaktu insulin belum ditemukan memang umurnya pendek. Karena kalau gula darah naik tidak bisa apa-apa. Tapi sekarang setelah begitu banyak ditemukan obat dan teknologi sudah maju dimana menyuntik insulin tidak terasa sakit sehingga harapan hidup lebih panjang. Katakanlah dulu tidak ada cuci darah sekarang ada cuci darah sehingga umurnya bisa panjang. Kalau dulu umur 30 sudah meninggal. Kalau sekarang katakanlah umur 70, 80, 90 tahun pun ada yang masih hidup. Hanya saja yang belum adalah bagaimana kualitas hidupnya? Harapan hidup tentu akan lebih pendek kalau tidak terkendali. Kalau bisa kita kendalikan maka umurnya akan seperti orang lain. Banyak pasien saya yang berumur 80, 90 tahun gula darahnya terkendali dengan baik, tidak ada komplikasi. Cuma, kita tahu bahwa diabetes itu tidak bisa disembuhkan. Kita hanya mencegah terjadinya komplikasi pembuluh darah besar, dan pembuluh darah kecil. Kelihatannya sepele tapi pembuluh darah besar itu di otak, jantung dan kaki. Pembuluh darah di otak tersumbat bisa terkena stroke. Jika pembuluh darah di jantung kita tersumbat, maka bisa terkena penyakit jantung koroner. Jika di kaki tersumbat, kita bisa diamputasi. Pembuluh darah kecil itu ada di mata, jika terkena bisa menyebabkan buta. Jika ginjal terkena maka bisa menyebabkan gagal ginjal. Sistem saraf di kaki terkena maka kita tidak terasa apa-apa, bisa jadi kebal. Hal-hal seperti itu mengubah kualitas hidup.

Rasanya kalau dengan wilayah seluas Indonesia semestinya memiliki fasilitas yang sesuai dengan potensi penderita jumlah diabetes yang banyak dan tenaga medis yang juga memadai. Bagaimana mengenai hal tersebut selama ini?

Dapat saya sampaikan begini, menurut perhitungan badan kesehatan dunia (World Health Organization –WHO) pada tahun 2003, kita berada nomor empat untuk jumlah orang dengan diabetes di dunia. Nomor satu India, kedua China, ketiga Amerika Serikat, keempat Indonesia. Jadi bisa dibayangkan, jumlah diabetisi atau orang dengan diabetes. Waktu itu disebutkan kita ada 8,5 juta orang. Sekarang, jumlahnya mungkin jauh lebih banyak lagi. Dokter di Indonesia ada sekitar 44.000. Dari 44.000 itu ada 1.500 spesialis penyakit dalam. Diantara 1.500 spesialis penyakit dalam ada 40 konsultan endokrin yang menangani diabetes ini. Mereka hanya di 13 kota besar, sedangkan Indonesia memiliki banyak provinsi atau pulau. Di seluruh Pulau Kalimantan tidak ada konsultan endokrin. Di seluruh Sulawesi hanya ada 2 – 3 orang konsultan endoktrin yaitu hanya di Menado dan Makassar. Sedangkan di Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Maluku, Papua, Bengkulu, Jambi, Kepulauan Riau tidak ada konsultan endoktrin. Yang ada hanya di Padang, Palembang dan Medan dengan masing-masing wilayah hanya satu. Jadi begitu banyak orang yang mempunyai diabetes, tapi tenaga kesehatannya sedikit. Jadi sekarang kita mengusahakan untuk pergi ke daerah, melatih para dokter umum untuk mengobati diabetes. Yang ironis adalah selama pendidikan dokter, mengenai diabetes hanya diajarkan selama empat jam. Bisa dibayangkan kalau seorang lulusan Fakultas Kedokteran hanya empat jam belajar mengenai diabetes padahal dia harus mengobati suatu penyakit yang kronis, yang jangka panjang. Kalau di suatu daerah tidak ada spesialis penyakit dalam atau tidak ada konsultan diabetes atau endokrin, maka alangkah menyedihkan.

Apa yang harus dilakukan masyarakat di pedalaman seperti itu agar sadar dan tahu bahaya penyakit ini, dan apa yang sekarang dilakukan oleh Persadia untuk menangani kekurangan tenaga medis di daerah-daerah itu?

Kami sekarang pergi ke daerah-daerah, ke tingkat kabupaten menyampaikan kepada pemerintah daerah dan masyarakat bahwa perubahan gaya hidup akan membawa dampak. Jangan ikut-ikutan orang kota. Harus banyak melakukan aktifitas fisik. Pertahankan pola makan yang sudah baik. Jangan ikut-ikut makan fast food atau makanan seperti orang barat atau kota besar karena akan mudah menjadi gemuk, akan mudah kena penyakit dan kalau sudah kena penyakit yang tidak bisa disembuhkan itu alangkah menyedihkannya. Pemerintah sudah banyak berusaha, tapi kita tahu sendiri bahwa untuk sampai ke daerah-daerah seperti itu obat-obatan masih sangat terbatas. Yang saya tahu Menteri Kesehatan sudah mencari terobosan-terobosan untuk melayani orang dengan diabetes ini karena ujung-ujungnya nanti kalau tidak ditangani dengan cepat bisa mengakibatkan kebutaan, sakit jantung, dan lain-lain. Kita mempromosikan gaya hidup sehat supaya mereka bertahan dengan pola hidup yang banyak bergerak, banyak makan sayur, buah, jangan makan manis, berlemak. Sering kali orang daerah makan banyak nasi, hanya dengan ikan asin dan sambel saja, menu seperti itu berkalori tinggi.

Nah ini juga menyangkut soal struktur sosial ekonomi kita. Orang mengatakan kalau miskin maka akan memiliki banyak penyakit karena memang mereka tidak bisa memenuhi kadar gizi yang memadai. Menyangkut ini saya kira pasti ada hubungannya dengan kualitas hidup seseorang. Bagaimana cara masyarakat yang juga secara ekonomi kurang mampu bisa juga memenuhi kebutuhan gizi yang sehat?

Ya, memang kita lihat ironis. Mereka makan apa adanya, sehingga kadang makan berlebih saat kalau mempunyai uang banyak. Mereka tidak sadar bahwa penyakit diabetes itu bukan hanya penyakit orang kaya. Di daerah pun cukup banyak orang dengan diabetes. Bedanya, kalau orang yang di kota, mereka menyadarinya sehingga kalau mereka gemuk berusaha fitness. Kalau ada makanan yang rendah kolesterol dan sugar free, mereka berusaha memilihnya. Sementara di daerah hal itu tidak ada. Jadi sebelum mereka melakukan itu, lebih baik kita sampaikan pesan hiduplah sehat, banyak bergerak. Dulu di daerah-daerah orang berjalan untuk pergi ke sawah, sekarang naik ojek. Akibatnya, aktifitas fisik berkurang. Mungkin dia masih memacul, tapi jalannya sudah tidak lagi. Kemana-mana motor sudah ada. Kalau orang kota masih senam, jalan pagi, sedangkan mereka yang di daerah merasa sudah cukup dengan kerja. Nah, aktifitas fisik yang berkurang ini nanti membuat mereka lebih gemuk. Kalau sudah gemuk bisa gula. Urusannya jadi panjang. Nah sebelum sampai berakibat itu, pemerintah daerah harus sadar dengan menyediakan fasilitas-fasilitas, seperti fasilitas olah raga, fasilitas yang membuat mereka berjalan atau melakukan suatu kegiatan. Apalagi kini fast food juga semakin banyak, itu membuat mereka jadi gemuk. Susah kalau sudah terlanjur.

Apakah ada contoh yang menggambarkan pola hidup masyarakat di daerah yang baik untuk mengontrol diabetes, misalnya tradisi makan atau gaya hidupnya?

Kita tahu masyarakat Jawa Barat banyak makan sayur. Katanya, kalau ditaruh di lapangan bisa hidup karena semua lalapan, sekarang tidak begitu lagi. Mereka makannya sudah fast food, makanan tradisional sudah jarang. Sementara di daerah tertentu memang makanan tradisionalnya mengandung banyak fat, artinya banyak daging. Makanan daerah yang susah sayur lebih banyak manis dan banyak lemak sehingga kalau mereka tidak melakukan aktifitas fisik makin banyak yang gemuk. Saya membayangkan begini, kalau dulu orang untuk hidup maka makanan harus berburu, tidak berburu tidak makan, sehingga orang tidak ada yang gemuk. Semua ramping, kurus, dan cepat. Kalau tidak dia makan maka dia dimakan. Kemudian berubah sampai orang bercocok tanam. Orang tidak mudah untuk makan kalau dia tidak menanam. Sekarang orang tidak menanam, tidak berburu, orang tukar dengan kertas (duit – Red) untuk makan. Nah pola hidup manusia yang dulu menyebabkan tidak ada sakit gula. Sekarang ada sakit gula karena tanpa usaha sedikit pun, hanya tukar kertas maka ia bisa makan.

Apakah semestinya juga kembali ke periode dimana pemerintah zaman dulu mengatakan mengolahragakan masyarakat, memasyarakatkan olahraga?

Kalau olah raga mungkin harus disediakan fasilitas. Karena itu PBB, WHO, atau pemerintah mengatakannya, “Walk 30 minutes everyday or walk 30 minutes most days in a week.” (berjalanlah selama 30 menit setiap hari – red) Itu realistis, kalau disuruh berolah raga maka dia harus membeli raket atau alat olah raga lainnya. Jadi jalan saja, dimana saja, dengan siapa saja, selama 30 menit.

Sumber : http://www.perspektifbaru.com

http:/www.indodiabetes.com


2 comments on “Sidartawan Soegondo: “Melawan Diabetes dengan Banyak Beraktifitas”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s